- Lansia

Depresi Bisa Jadi Gejala Pertama Demensia

Sebuah penelitian yang dilakukan selama 4 tahun oleh ilmuwan di Washington University School of Medicine tentang demensia menemukan, depresi bisa memicu demensia. Dari 2.416 peserta penelitian yang berusia di atas 50 tahun, sebanyak 50% mengalami demensia dan perubahan perilaku. Beberapa di antaranya adalah bersikap lebih apatis (cuek) terhadap lingkungan, mudah tersinggung, dan depresi.

Depresi Gejala Awal Demensia

Orang yang mengalami depresi dapat meningkatkan risiko demensia. Perhatikan anggota keluarga atau orang-orang yang Anda sayangi, terutama lansia. Bila perilakunya berubah jadi lebih cepat marah, jangan langsung membuat kesimpulan. Sebab, depresi juga bisa disebabkan oleh berbagai alasan. Alzheimer Foundation of America menyebut, depresi bisa memperburuk kondisi pikun atau kehilangan memori seperti demensia.

Gejala Serupa, Waktu Berbeda

Para responden menjalani serangkaian tes standar untuk mengukur penurunan daya berpikir, daya memori, perilaku dan keterampilan fungsional. Para peneliti kemudian melihat perubahan pada 2 kelompok. Kelompok pertama mengalami demensia. Sementara itu, kelompok kedua tidak mengalaminya.

Dari penelitian ini ditemukan fakta bahwa ada kesamaan gejala awal sama untuk orang yang mengalami demensia dan yang tidak memilikinya. Gejala ini terjadi dalam 3 fase. Pertama, penderita jadi mudah tersinggung atau mudah marah, depresi dan mengalami perubahan kebiasaan di malam hari (sulit tidur nyenyak).

Pada fase kedua, penderita sering merasa cemas, mengalami perubahan nafsu makan, gelisah, dan apatis. Sementara itu pada fase ketiga, penderita malah merasa gembira, tapi mengalami gangguan pergerakan, halusinasi, delusi, dan bersikap impulsif atau sering bertindak terburu-buru.

Mereka yang didiagnosis mengalami penyakit demensia, dapat memperlihatkan gejala-gejala tersebut sejak awal. Hasil penelitian menunjukkan, serangkaian perubahan non-kognitif dimulai sebelum gejala pikun atau kehilangan daya ingat muncul pada penyakit Alzheimer maupun demensia.

Meskipun sudah ada bukti-bukti ilmiah, para peneliti masih belum bisa menentukan depresi dan gejala non-kognitif lainnya sebagai respons terhadap yang terjadi di otak saat penyakit Alzheimer dan demensia berkembang.

Pemeriksaan Gejala Sejak Dini Sangat Membantu

Perubahan perilaku atau psikis juga bisa menjadi gejala awal penyakit demensia. Jadi, sangat penting berkonsultasi dengan dokter untuk menceri kepastian tentang kondisi yang dialami pasien. Tak hanya itu, sangat penting bagi dokter untuk melihat gejala-gejala yang tampak sepele. Misalnya, anemia atau kelelahan pada orang yang sering mengeluh mudah letih saat melakukan sedikit aktivitas.

Dokter akan mempertimbangkan untuk memberikan skrining kognitif atau tes kognitif untuk membantu penanganan yang tepat sesegera mungkin. Sayangnya, penelitian yang dilakukan sebelumnya masih harus dikaji ulang karena melibatkan para para responden tanpa gejala depresi atau gejala demensia di awal penelitian. Padahal, depresi umumnya terjadi pada lansia. Oleh karena itu, para ilmuwan mengatakan penelitian dengan sampel yang lebih realistis, bisa menghasilkan temuan yang lebih meyakinkan.  Meski demikian, para peneliti menyebutkan bahwa para responden yang sebelumnya tidak memiliki demensia selama penelitian, masih mungkin bisa mengalami demensia di kemudian hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *