- Penyakit

Sejarah Kemunculan Artemesia, Obat Malaria Kuno dari China

Malaria adalah salah satu penyakit yang memiliki tingkat mortalitas atau kematian yang tinggi pada manusia. Penyakit ini merupakan endemi dari negara-negara beriklim tropis. Indonesia merupakan salah satu negara yang kerap mendapat penyakit malaria. Sebagaimana rentetan sejarah mengenai penyakit ini, obat maria pun memiliki sejarah yang panjang pula.

Penyakit malaria disebabkan oleh parasit bersel tunggal Plasmodium yang dibawa oleh nyamuk yang terinfeksi. Artemisinin yang berasal dari ekstrak Artemesia annua menjadi senjata ampuh mengatasi parasit malaria, yang telah resistan (kebal) terhadap obat lama, seperti kuinin, klorokuin, dan sulfadoxine atau pyrimethamine, yang menjadi andalan pada akhir abad ke-19.

Asal-usul pembuat artemisinin ternyata pernah menjadi misteri meski obat itu sudah beredar hampir 40 tahun. Peneliti dari National Insitute of Health (NIH), Maryland, Amerika, Louis Miller, tak menemukan jawaban saat bertanya kepada ahli malaria asal China dalam pertemuan di Shanghai pada 2005.

  • Perang, Kegagalan, dan Dokumen Tua Mengiringi Sejarah Penemuan Artemesinin

Sejarah penemuan obat malaria baru ini bermula pada tahun 1960-an. Pimpinan besar China saat itu, Mao Zedong, dan Perdana Menteri, Zhou Enlai, menggelar proyek militer rahasia China. Salah satu fokus dalam proyek militer yang diberi nama Proyek 523 itu adalah riset untuk menemukan obat malaria baru lantaran obat-obat sebelumnya tak lagi mampu membendung serangan parasit malaria.

Pada masa-masa itu, Negeri Tirai Bambu tengah dilanda wabah malaria. Negeri sekutunya, Vietnam Utara, yang tengah berperang melawan Amerika Serikat pun demikian sehingga melemahkan perlawanan mereka. Atas urgensi tersebut, Mao memanggil dan mengumpulkan ratusan ilmuan, termasuk Tu Youyou, yang di akhir cerita mampu menemukan obat malaria tersebut.

Tu baru berusia 39 tahun saat ditunjuk untuk bergabung pada 1969. Kala itu, Tu bukan peneliti yang populer, tetapi dia paham pengobatan Barat dan Cina sekaligus. Tu dan timnya sangat kesulitan mencari formula obat malaria baru. Saat dia memulai risetnya, sudah lebih dari 240 ribu senyawa diteliti oleh Amerika dan Cina tanpa membuahkan hasil positif. Akhirnya Tu berpaling ke obat tradisional.

Titik terang muncul ketika para peneliti mempelajari lebih dari 2000 dokumen tua pengobatan tradisional China yang ditulis 1.600 tahun lalu. Dalam salah satu dokumen, Tu menemukan penjelasan bahwa hasil rendaman pohon Artemisia annua, spesies tanaman yang banyak ditemukan di China bisa dipakai untuk mengobati malaria.

Setelah berulang kali mencari formula penyiapan obat yang tepat, Tu sukses mengekstrak tanaman itu pada suhu rendah. Uji coba pada monyet dan mencit ternyata efektif. Tu bahkan menjadi sukarelawan pertama dalam uji coba obat terhadap manusia.

Tes selanjutnya terhadap sejumlah pekerja yang terjangkit malaria di hutan pun sukses. Dalam waktu 30 jam, demam mereka berkurang dan parasit bisa disingkirkan dari aliran darah. Artemisinin pun mampu membunuh larva parasit pada awal tahap pertumbuhannya.

  • Obat Malaria Itu Kini Menjadi yang Paling Ampuh

Dalam 10 tahun terakhir, mulai muncul resitansi parasit terhadap artemisinin di Kamboja. Obat itu masih bekerja dengan baik, tapi butuh waktu lebih lama, dari dua menjadi empat hari untuk mengatasi malaria. Dokter kini menggunakan kombinasi artemisunin dan obat antimalaria lain, karena parasit sulit mengembangkan resistansi pada dua obat sekaligus.

Menurut Khie Chen, spesialis penyakit dalam dari Divisi Penyakit Tropis dan Infeksi Fakultas Kedokteran UI, penemuan artemisinin sangat membantu pengobatan malaria tersiana ataupun tropika yang endemis di Indonesia.

Di Indonesia, artemisinin tersedia dalam bentuk tablet dan injeksi yang didistribusikan terbatas dengan pengawasan Kementerian Kesehatan. Menurut Khie, hal ini dilakukan untuk mencegah penggunaan yang tidak rasional yang dapat memicu resistansi.

Setelah 46 tahun sejak Tu dan rekan setimnya menemukan artemisisnin sebagai obat malaria, atau tepatnya pada 2015 lalu, nenek yang kini berusia 89 tahun itu dianugerahi Hadiah Nobel di bidang kedokteran atas sumbangannya terhadap dunia kesehatan dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *